“Aisyah jangan bersedih atas kepergianku. Ini hanya perpisahan sementara yang terhalang oleh ruang dan waktu, bukan perpisahan abadi. Perpisahan abadi terjadi ketika ajal telah menjemput. Jika Allah Swt. menghendaki, kita akan berjumpa kembali.
Aisyah…
Bisa jadi nanti
aku mengatakan ‘Selamat menempuh hidup baru’ padamu atau sebaliknya atau
orang-orang yang akan berkata seperti itu pada kita. Jangan terlarut dalam
penantian, karena kita tidak pernah tau rencana Allah Swt. kedepannya
bagaimana.
Aisyah…
Alangkah baiknya
ketika ingin berubah lakukanlah secara bertahap, tidak usah secara drastis.
Karena dengan bertahap dapat terbiasa dengan perubahan yang sedikit demi
sedikit dan insyaallah dapat konsisten sedangkan jika melakukan perubahan
secara drastis ditakutkan kembali ke titik dimana memulai. Ingatlah hijrah yang
kamu lakukan harus karena Allah Swt. bukan karena seseorang yang kamu sukai
atau yang lainnya.
Mungkin cukup
pesan dari abang. Semoga kita dapat bertemu kembali dengan cara yang tidak
disangka-sangka seperti awal kita bertemu.”
Aku
tidak pernah tahu apakah bang Furqon merasakan
kekaguman ku padanya atau tidak. Kuharap dia tidak mengetahuinya. Cukup
aku yang menahan semua ini. Cukup aku dan Allah Swt. yang mengetahui isi hati
ini.
Untaian
kata dan nasihat yang bang Furqon utarakan membuat hatiku bergetar dan aku
larut membacanya hingga air mata membasahi pipi ini. Semenjak itu aku mulai
melupakannya. Aku menyibukan diri dengan kegiatanku di kampus agar tidak
terbayang-bayang lagi sosoknya dan aku merasa beruntung pernah mengenalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar