Sabtu, 01 April 2017

Sepucuk Surat Tuk Aisyah



“Aisyah jangan bersedih atas kepergianku. Ini hanya perpisahan sementara yang terhalang oleh ruang dan waktu, bukan perpisahan abadi. Perpisahan abadi terjadi ketika ajal telah menjemput. Jika Allah Swt. menghendaki, kita akan berjumpa kembali.
Aisyah…
Bisa jadi nanti aku mengatakan ‘Selamat menempuh hidup baru’ padamu atau sebaliknya atau orang-orang yang akan berkata seperti itu pada kita. Jangan terlarut dalam penantian, karena kita tidak pernah tau rencana Allah Swt. kedepannya bagaimana.
Aisyah…
Alangkah baiknya ketika ingin berubah lakukanlah secara bertahap, tidak usah secara drastis. Karena dengan bertahap dapat terbiasa dengan perubahan yang sedikit demi sedikit dan insyaallah dapat konsisten sedangkan jika melakukan perubahan secara drastis ditakutkan kembali ke titik dimana memulai. Ingatlah hijrah yang kamu lakukan harus karena Allah Swt. bukan karena seseorang yang kamu sukai atau yang lainnya.
Mungkin cukup pesan dari abang. Semoga kita dapat bertemu kembali dengan cara yang tidak disangka-sangka seperti awal kita bertemu.”


Aku tidak pernah tahu apakah bang Furqon merasakan  kekaguman ku padanya atau tidak. Kuharap dia tidak mengetahuinya. Cukup aku yang menahan semua ini. Cukup aku dan Allah Swt. yang mengetahui isi hati ini.
Untaian kata dan nasihat yang bang Furqon utarakan membuat hatiku bergetar dan aku larut membacanya hingga air mata membasahi pipi ini. Semenjak itu aku mulai melupakannya. Aku menyibukan diri dengan kegiatanku di kampus agar tidak terbayang-bayang lagi sosoknya dan aku merasa beruntung pernah mengenalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap bersabar

بسم الله الر حمن الر حيم Shalihah, rasanya tak pantas jika engkau terus memikirkannya. Kamu begitu tega menduakan al Quran, kamu begi...