Sabtu, 01 Desember 2018
Kilas Balik Mimpi
*semoga ada yg terinspirasi dgn pengalamanku yg satu ini :)
Alhamdulillah pada tanggal 23 Maret 2018, aku dinyatakan lulus beasiswa STQ Mahasiswa Daarut Tauhiid. Perjuangan dan cita-citaku untuk hafal 30 juz baru dimulai. Aku harap tidak hanya sekadar hafal tetapi memahami maknanya dan mengamalkannya juga. Al Quran bisa menjadi pedoman hidup jika kita memahami kandungannya bukan? Daaaaaaan aku selalu berharap bisa membangun keluarga Qur'ani. Makanya dimulai dari calon emaknya dulu hehe. Dari sekarang pun aku sudah mulai koleksi buku-buku tentang keluarga penghafal al Quran, seperti 3 Hafizh Quran Cilik Mengguncang Dunia, Dalam Dekapan Mukjizat Al Quran dan 10 Bersaudara Bintang Al Quran. Semoga patnerku kelak adalah seseorang yang memiliki semangat menegakkan syariat Islam, yang memiliki kecintaan terhadap-Nya, rasul-Nya dan terhadap al Quran, memiliki visi yang sama yaitu membangun peradaban yang dimulai dari keluarga. Keluarga yang berlandaskan al Quran dan sunnah.
Disini aku bakalan nyeritain bagaimana awal termotivasi untuk menghafal al Quran sampai aku pun berniat untuk daftar beasiswa ke DT. Ketika aku baca tulisanku empat tahun lalu, ternyata aku sudah memiliki keinginan untuk menghafal al Quran. Namun pada masa-masa itu sangat sulit rasanya untuk menghafal al Quran. Iya sulit! Karena aku ngafalinnya tiap bulan Ramadhan saja, dapet satu surat aja engga haha. Untuk pertama kalinya aku menyelesaikan hafalan sebanyak 1 juz yaitu juz 30 di Pesantren Ulul Albab pada tahun 2017. Lalu berlanjut di MataQu Persis menambah hafalan juz 1. Alhamdulillah saat ini hafalan juz 29 baru setengahnya aku setorkan kepada Ust. Gugum, asatidz di Ulul Albab.
Sebenarnya semangat untuk menghafal al Quran, tidak serta merta datang dari diri sendiri, namun datang dari program acara televisi dan teman-teman baruku. Tahun 2014 setiap bulan Ramadhan aku suka menonton tayangan "Hafidz Indonesia" dan "Hafidz Dunia". Makanya aku semangat menghafalnya hanya pada bulan Ramadhan saja. Tahun 2015 aku menonton "Musafir Ma'al Quran" yang acara tersebut dibawakan oleh Syekh Fahd Alkandary. Tahun 2016 aku bertemu dengan Rimas dan teh Tia. Mereka secara tidak langsung mengajakku untuk bersama-sama menghafal al Quran. Aku pertama kali bertemu teh Tia saat pertama masuk ke Ulul Albab. Teh Tia selalu memberi semangat agar aku bisa ikut STQ di DT, karena dia sudah lulus STQ di DT. Ma asyaa Allah. Inspirasi mulai muncul dari beberapa anggota Rimas yaitu a Ilyas dan Malik, tepatnya satu tahun yang lalu. Ketika kita bertiga menunggu pendaftaran peserta Pesantren Ramadhan di masjid. Saat menunggu, kita hanya sebentar mengobrol lalu dilanjutkan dengan murojaah dan jiyadah hafalan. Masyaa Allah mereka berdua sudah banyak hafalannya, sedangkan aku untuk menambah hafalan satu dua ayat saja dirasa sulit. Tahun 2017, kira-kira seminggu setelah Idul Fitri aku memutuskan untuk mengikuti privat bahasa Arab di Darajat, Garut. Tidak hanya belajar bahasa arab, di sana aku bertemu dengan teman baru dari Ponpes Cipari. Maa Syaa Allah mereka hafalannya sudah banyak, bahkan ada yg sudah hatam.
Sejak saat itulah semangatku terus bertambah. Benar memang, teman itu sangat mempengaruhi. Semoga Allah senantiasa melindungi kalian. Iya, kalian orang-orang yang telah menjadi jalan mendapat hidayah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Harap bersabar
بسم الله الر حمن الر حيم Shalihah, rasanya tak pantas jika engkau terus memikirkannya. Kamu begitu tega menduakan al Quran, kamu begi...
-
بسم الله الر حمن الر حيم Shalihah, rasanya tak pantas jika engkau terus memikirkannya. Kamu begitu tega menduakan al Quran, kamu begi...
-
Tulisan yang paling disuka dalam buku Laa Tahzan karya Syeih Aidh alQarni^^ . Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelam...
-
Untukmu yang entah dimana keberadaannya Disini aku hanya bisa berdoa Karna hanya itu satu-satunya cara Caraku mengungkapkan semua...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar